Masih dengan semangat sama seperti Ekspedisi Air Terjun Sumenep, Forum Lintas Komunitas (Folkom) kembali mengajak teman-teman dari Jepara untuk piknik kembali. Kali ini kami ke Air Terjun Banyu Anjlok. Lokasi Banyu Anjlok masih di sekitar kecamatan Batealit, tepatnya di daerah Suwengan Somosari. Karena itulah, kami menyebutnya Expedisi Air Terjun Banyu Anjlok.

Ekspedisi Air Terjun Banyu Anjlok bersama Folkom

Ekspedisi Air Terjun Banyu Anjlok bersama Folkom

Piknik Expedisi Air Terjun Banyu Anjlok yang diadakan Folkom ini sebenarnya gratis bagi siapa saja. Pesertanya tak harus memiliki komunitas meski mengusung nama Forum Lintas Komunitas. Tugas Folkom adalah menjembatani semua kamunitas yang ada di Jepara agar bersatu. Bagi mereka yang belum memiliki komunitas, dipersilakan tetap ikut sebagai perseorangan atau mungkin mau gabung ke komunitas yang sudah ada. Semoga penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan teman-teman yang ingin ikut acara Folkom. Bebas saja kok, malah jadi saat yang tepat untuk piknik gratis bersama sekitar dua ratus teman dari Jepara.

Nah, tanggal 13 Maret lalu, kami semua ke Banyu Anjlok. Peserta yang ikut, sesuai dugaan, membludak. Lebih dari 200 orang ikut, itu artinya lebih banyak daripada acara pertama. Kami semua berkumpul di Kecamatan Batealit yang paling mudah diakses semua peserta, baik dari pucuk timur, selatan,utara maupun tengah kota. Kami sepakat bertemu pukul 7 dan berangkat pukul 8 pagi.

area persawahan di batealit

Area persawahan di Batealit menggunakan sistem terasering sesuai kontur tanah

jalan menuju air terjun banyu anjlok2

Jalan menuju air terjun Banyu Anjlok. Di sini wisatwan ditarik Rp 5000,- per motor

jalan menuju air terjun banyu anjlok3

Pemandangan indah yang sulit diabaikan

Jalan menuju Banyu Anjlok ternyata luar biasa. Sepanjang jalan pemandangannya sangat indah. Kami berkali-kali bertemu air terjun di jalan. Jalan juga berkelok-kelok dengan pemandangan sebelah kanan adalah lembah dan atau persawahan terasering. Beberapa kali saya meminta suami memelankan laju motor. Lambat sedikit tak apa, toh masih ada tim sisir rombongan yang masih di belakang kami. Oh ya, PIC ekspedisi kali ini adalah teman-teman dari Ngluyur Mania Jepara pimpinan Mas Anam.

Kami sampai di area parkir akhirnya. Sebelumnya, kami melewati penjaga dan membayar tiket Rp 5000 per motor. Pembayaran tiket memang agak di bawah karena desa Suwengen dan sekitarnya memang dikelilingi air terjun yang dikelola warga. Ada air terjun Banyu Anjlok, Grojogan Ndoyong, Nongko Pace, Pancuran, juga Wedung Kecemplung. Nama-nama yang dipakai sangat Jawa dan ndeso ya? Hehehe…. nama tersebut sudah lama dipakai, bahkan sebelum kakek-nenek kita. Mungkin suatu saat jika sudah dikelola Pemda Jepara akan berganti nama, siapa tahu. Yang jelas, saat ini sudah ada banyak rencana untuk pengembangan air terjun yang saya sebutkan di atas dengan pembangunan gapura berbentuk atap Jawa di area tiket masuk, juga di tiap desa yang menjadi tempat singgah pelancong dan menitipkan kendaraannya. Dan yang tak kalah penting, bahkan wajib sekali adalah perbaikan jalan. Sungguh… tak mudah menuju air terjun ini.

Parkiran motor/mobil di air terjun Banyu Anjlok

Parkiran motor/mobil di air terjun Banyu Anjlok

Akses menuju air terjun Banyu Anjlok pertama melewati rumah penduduk

Akses menuju air terjun Banyu Anjlok pertama melewati rumah penduduk

Kami memulai pendakian bukit, melingkari bukit dan menyusuri sungai. Jalan setapak yang dilalui untuk menuju Banyu Anjlok lebih landai, lebih mudah, dan sudah disiapkan warga. Terbukti dari akses jalan yang meski dari tanah tetapi sudah rapi. Sepanjang jalan kita juga sering bertemu air terjun di jalan. Batealit memang sangat kaya akan air terjun dan grinjingan (air terjun kecil). Kami melalui 4 grinjingan yang akan membelah jalan jika di atas hujan. Di bagian ini mungkin warga yang membaca ini bisa memikirkan cara agar wisatawan tetap bisa melihat air terjun di saat grinjingan “hidup”. Mungkin semacam tali penahan. Entahlah, saya merasa agak gimana gitu jika diminta melewati grinjingan tanpa tali ketika sumber air grinjingan terisi.

jalan setapak menuju air terjun banyu anjlok

Berhati-hati melewati grinjingan atau air terjun kecil

jalan setapak menuju air terjun banyu anjlok2

Berhati-hati melewati grinjingan atau air terjun kecil

air terjun di batealit1

Melihat air terjun di kejauhan

air terjun di batealit2

Melihat air terjun di kejauhan

air terjun di batealit3

Melihat grinjingan di kejauhan

air terjun di batealit4

melewati grinjingan hidup di perjalanan

Menyusuri sungai sebelum sampai di air terjun banyu anjlok

Menyusuri sungai sebelum sampai di air terjun banyu anjlok

Setelah melalui perjalanan sekitar 30 menit, kami sampai di tepi sungai berbatu yang cukup lebar. Kami segera melepas alas sepatu karena perjalanan selanjutnya adalah menyusuri sungai. Adakalanya kami meloncat dari satu batu ke batu yang lainnya. Sangat menyenangkan sekali. Oh ya, sungai ini memiliki 2 tujuan. Berjalan ke atas akan bertemu air terjun Banyu Anjlok, dan jika menyusur ke bawah akan bertemu dengan air terjun Nongko Pace.

Tak sampai 10 menit kami sampai ke air terjun Banyu Anjlok dan melihat teman-teman sudah mulai membuka bekal dan atau bermain air. Banyak juga yang asyik berfoto. Saya segera ke pinggir kanan menemui rombongan Mbak Sari dan Passpith. Kami janjian share makanan. Saya membawa nasi dan kopi, dia api, nasting dan lauk. Inilah indahnya piknik folkom. Biaya nyaris gratis kecuali bekal makanan yang dibawa sendiri dan uang parkir sebesar RP 5000,- saja.

air terjun banyu anjlok

Air terjun banyu anjlok

wisata keluarga di air terjun banyu anjlok

Wisata keluarga di air terjun banyu anjlok

Kami bertahan cukup lama di sana. Asyik menikmati alam dan ricuhnya para peserta piknik. Senang sekali akhirnya bisa berpiknik kembali. Expedisi Air Terjun Banyu Anjlok berlangsung sukses. Kami pun siap menjadwalkan piknik Folkom ketiga. Kemana kami selanjutnya? Tunggu cerita selanjutnya ya. Masih ada Piknik Ke air terjun Rahtawu yang harus saya bagi.

About the author

bloggerjepara

12 Comments

Leave a Comment