H – 2 menuju ekspedisi Candi Angin, saya mulai persiapan kecil. Kecil sekali sampai tidak terlihat, yaitu berusaha agar kesehatan tidak drop. Padahal aslinya badan agak tidak keruan. Saya perbanyak istirahat dan minum suplemen perbaikan sistem imunitas tubuh. Saya harus berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti acara ini dengan baik. Persiapan lain saya adalah menyiapkan alas kaki yang nyaman agar tak mengganggu pendakian nanti. Semua sepatu kami berempat sudah siap. Anak-anak dan suami memakai sepatu gunung, sementara saya memakai sepatu jogging yang saya milliki. Sebenarnya sih… saya sedang ngidam sepatu jogging-nya Brooks yang keren itu. Ahihihihi…

candi angin jepara

Candi Angin di Jepara

Meski saya katakan ekspedisi, sebenarnya lebih ke kegiatan mendaki bukit atau gunung. Istilah ini saya gunakan untuk anak-anak yang masih kecil – dan selalu ikut.Jadi jika mereka membaca tulisan saya tentang ekspedisi, mereka akan merasa bangga ikut serta. Saya memang sebisa mungkin mengenalkan anak pada kegiatan susur bukit dan naik gunung yang kecil-kecil sesuai usia mereka. Destin berusia 12 tahun, dan Binbin berusia 8 tahun. Pilihan gunung masih terbatas karena kami tidak sanggup menggendong mereka jika kapayahan memanjat. Tidak… harus sesuai usia dan kemampuan badan. Jadi tidak ngoyo harus ke sana-sini. Slow saja, nunut acara jalan-jalan teman. Kali ini, kami sekeluarga mendompleng acara ekspedisi teman-teman komunitas Ngluyur Mania Jepara. Menurut saya asyik saja sih, karena bisa mengenal banyak teman baru. Setidaknya sebulan sekali-dua kali kami jalan-jalan ke alam. Kamu ingin ajak kami main – main ke alam bareng komunitasmu? Hubungi saya melalui kontak yang ada ya!

7 Agustus nanti, kami akan ke Candi Angin melalui desa Tempur Jepara. Saya belum bisa bercerita banyak tentang Candi ini karena belum pernah ke sana. Cerita yang saya dapatkan masih seputar mitos Candi Angin yang usianya lebih tua daripada semua Candi Hindu yang tersebar di Jawa. Bentuk candinya masih bersih dari ornamen-ornamen Hindu maupun Budha. Orang-orang berkemampuan linuwih bisa melihat pusaran angin di tengah candi, makanya dinamakan Candi Angin. Para pemerhati budaya kuno selalu menantikan berita dari Candi Angin karena masih menjadi misteri. Kalau cerita seputar ekspedisi, selalu tak lepas dari budaya warga desa Tempur yang teramat sangat ramah pada para pendaki. Ah, saya tak sabar menanti hari H.
sepatu brook
Pasti teman-teman tanya, saya sudah beli sepatu Brooks atau belum? Jawaban saya belum. Huhu.. padahal pengen banget punya. Saya naksir sepatu Brooks Glyserin 13. Modelnya unyu-unyu dan punya brand identity. Dari jauh juga orang tahu itu sepatu apa dan merk apa. Hihihi… sombong….? Nggak lah. Sepatu atau fashion branded memang selalu punya ciri khas yaitu mudah dikenali merk dan serinya.

Tapi bukan karena itu saya pengen punya sepatu Brooks Glyserin. Menurut Elizabeth Quinn, seorang ahli kedokteran olahraga, “The Brooks Glycerin adalah salah satu sepatu lari paling empuk yang pernah ada sejak tahun 2011. Ini mungkin terlalu lembut untuk kebanyakan pelari, tetapi jika kita memiliki lengkungan yang sangat tinggi (very high-arched feet), sepatu ini memberikan banyak pantulan. Banyak pelari melaporkan mereka dapat bertahan melewati latihan lari jarak jauh di medan yang bervariasi dengan mengenakan Glycerin.”

Wajar kan kalau saya percaya endorse-nya Elizabeth Quinn yang terkenal itu? Nabung dulu ah, buat beli sepatu Brooks Glyserin.

About the author

bloggerjepara

1 Comment