Bulan Mei-Juni lalu, para netizen diguncang oleh berita penyiksaan anak sampai meninggal di Bali. Publik tersentak, bagaimana mungkin masih ada penyiksaan anak di zaman sekarang, dan tak terendus masyarakat. Angeline atau Engeline, nama bocah perempuan cantik berusia 8 tahun yang pastilah membuat siapapun jatuh cinta. Ketika foto imutnya dipajang, ada rasa perih di dada. Bagaimana bidadari kecil secantik itu berakhir tragis di tangan keluarganya sendiri. Keluarga angkat yang seharusnya menjadi pelindung, bukan algojo.

Angeline sempat dikabarkan menghilang sebelum ditemukan mayatnya 3 minggu kemudian, dikubur di area kandang ayam. Berdasarkan pengakuan para tersangka, perkiraan kematian Angeline pada tanggal 16 Mei 2015.

Kasus kematian Angeline masih disidangkan sampai saat ini. Banyak fakta terungkap. Serpihan-serpihan cerita bermunculan. Tak ingin peristiwa ini terlupakan, juga sebagai bentuk kampanye STOP KEKERASAN PADA ANAK, rumah produksi PT Citra Visual Sinema” menggandeng sutradara Djito Banyu menggarap kisah based on true story berjudul “Untuk Angeline”. Niken Septikasari menjadi produser film yang mayoritas penggarapannya dilakukan di Bali. Bagaimana kisahnya? Apakah film Untuk Angeline benar-benar seperti kisah nyata?

poster film Untuk Anjeline

Sinopsis film Angeline.
Midah dan Santo adalah pasangan suami istri yang dirundung kebingungan karena tak dapat membayar biaya melahirkan. Saat kalut, Santo mendengar percakapan ibu dan anak yang ingin membawa pulang boneka kotor yang terjatuh di lorong rumah sakit. Akhirnya, santo mempunyai ide “menjual bayi perempuannya” agar terbebas dari biaya rumah sakit.

Singkat cerita, sepasang suami istri beda warga negara bersedia mengadopsi selama 18 tahun. John dan Terry, pasangan itu memberi nama Angeline. Di tangan mereka Angeline tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik. John sangat mencintai Angeline sehingga Terry (istri) dan Kevin (anak) cemburu. Suami istri ini sering cekcok perihal kehadiran Angeline di rumah mereka dan berakhir dengan kematian John akibat serangan jantung.

Selamat hari anak nasional versi Untuk Angeline

Kematian John mengubah hidup Angeline. Ia sering disiksa ibu angkatnya itu. Tiap hari dia harus mengurus kucing dan jarang diberi makan maupun uang saku sekolah. Baju seragam SD-nya lusuh. Tak menampakkan jika dari keluarga kaya. Angeline memiliki teman-teman yang baik di sekolah dan memberinya bekal makanan. Di rumah, pembantu Terry juga diam-diam membelikan nasi bungkus untuk makan Angeline.

Suatu hari, semua kucing kesayangan Terry mati. Ibu yang galak itu kalap dan memukuli Angeline sampai meninggal. Midah dan Santo, ayah dan ibu Angeline sangat terpukul oleh kematian anak mereka satu-satunya itu. Midah dengan tangis pedih bertekad meminta keadilan ditegakkan demi Angeline. Film diakhiri dengan kebahagiaan Angeline karena bertemu ayah angkatnya, John di surga.

Review Untuk Angeline

Film ini sukses membuat para wanita menangis terharu. Setidaknya perempuan-perempuan blogger yang datang bersama saya di Nobar Untuk Angeline di Citra XXI Semarang. Mereka sangat terharu karena sisi keibuan yang selalu ingin melindungi anak-anak. Yang jelas, film ini berhasil membuat para penonton malu beranjak dari kursi ketika film telah usai. Derai tawa menghiasi mereka, tetapi bening air mata tampak di mata.

Selama menonton film ini, saya melihat beberapa adegan yang dramatik (berlebihan) sehingga nyaris sulit dipercaya bahwa itu nyata terjadi. Air mata Midah (Kinaryosih) terus menganak. Wanita sederhana itu menganggap bahwa dirinya dikutuk oleh Penciptanya akibat menjual anak demi keluar dari rumah sakit. Film ini juga menonjolkan kekejaman Terry dan Kevin yang jauh dari perasaan manusia. Menyuruh anak kecil makan makanan kucing adalah kekejaman Terry yang tak biasa. Senyum keji Kevin sambil memainkan piano saat Angeline dipukuli ibunya adalah gambaran aneh bagi saya. Tetapi, jika kembali ke mula penyebabapi dendam keduanya, saya merasa prihatin. John – tokoh protagonis itulah yang membuat anak dan istrinya menjadi monster. Dia tak berperasaan jika bersinggungan dengan keduanya. Cintanya hanya untuk Angeline dan Angeline saja.

Nobar Untuk Angeline bersama Blogger KOPI Semarang

Foto bersama para ibu-bu sebelum menonton

Mengapa dalam film kita sering diberi gambaran dramatik, alih-alih adegan normal harian? Karena adegan dramatik (cenderung teatrikal) dibutuhkan untuk mempersingkat penjelasan sebab musabab cerita. Durasi film sangat terbatas sementara lanjaran cerita harus kuat agar penonton larut dalam cerita. Maka saya pun mencernanya begitu saja sebagai bagian dari pembangun cerita film. Tanpa adegan ala monster Terry dan Kevin, kita akan sulit dibuat percaya betapa kejam siksaan yang didera Angeline. Karena di film itu gambaran siksaan Angeline tidak terlihat nyata. Secara psikologis penonton digiring pada imaji kedahsyatan siksaan Angeline setelah diawali gambaran kedalaman amarah dan sakit hati para pelaku. Padahal gambar pemukulan Angeline tidak terlihat secara bertubi dan detail (Ya masa sih dibuat detail? Kena sensor dong…). Jadi penonton yang takut action thriller, saya beritahu ya, film ini murni film drama yang menguras air mata.

Jika ditanya fakta kisah Angeline asli dengan Angeline versi film, saya jawab, TIDAK. Faktanya tidak seperti itu. Ini adalah film based on true story. Beberapa kisah dijadikan pijakan, ditambahi dan dikurangi agar cerita lebih masuk dan memberikan impact lebih pada penonton. Ibu Midah tak selugu filmnya, pun dengan peran yang lain. Bisa dikatakan, it’s a showbiz. Kita membayar untuk menonton film tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang korbannya adalah seorang gadis kecil berusia 9 tahun (aslinya 8 tahun). Kita diajak untuk memahami bagaimana kejahatan dalam diri kita bermula. Kita diingatkan untuk menyesal karena telah menghardik atau menghukum anak di rumah. Kita diingatkan, bahwa ada sahabat-sahabat anak yang selalu siap membantu ketika dibutuhkan.

Pasca menonton

Foto usai menonton film – ada yang matanya sembab karena terlalu banyak menangis.

Daftar pemain, sutradara, dan info detail film Untuk Angeline
Pemain: Naomi Ivo (Angeline), Roweina Umboh (Terry ), Teuku Rifnu Wikana (Santo, ayah kandung), Kinaryosih (Midah Ibu kandung Angeline), Paramitha Rusady (majikan Midah), Rey Bong (kevin,anak Terry), Hans De Kraker (John, ayah angkat Angeline).
Produser : Niken Septikasari
Sutradara: Djito Banyu
Genre Film : Biography , Drama
Tanggal Tayang : 21 July 2016 (Indonesia)
Negara : Indonesia
Rumah Produksi : Citra Visual Cinema
Bahasa Film : Indonesia

About the author

bloggerjepara

2 Comments